Lumbung Pahala Dibalik Kehilangan Pembantu

Saudariku…
Apakah tumpukan piring kotor anda menjulang?

Lalu pakaian kotor menggunung?
Rumah bak kapal pecah!?

Sedangkan pembantu meninggalkan anda mudik ke kampung halaman.

Jangan meratap dan berkeluh kesah!!

Simaklah solusi nabawi bagi seorang ibu yang ditinggal mudik oleh pembantunya.

Ali bin Abi Thalib -radhiyallaahu anhu- berkata:
“Fathimah mengeluhkan bekas alat penggiling yang dirasakan tangannya.
Maka Fathimah pun mendatangi Nabi guna meminta seorang pembantu dari beliau, namun saat tiba di rumah beliau tidak ada seorangpun yang dapat ia temui kecuali Aisyah.
Lalu ia mengutarakan maksud kedatangannya kepada Aisyah.

Dan pada saat Nabi pulang, Aisyah memberitahu beliau perihal kedatangan putri beliau Fathimah. Maka beliaupun mendatangi kami (Ali & Fatimah) pada saat kami hendak tidur.

Akupun secara spontan berdiri, namun beliau berkata: “Tetaplah di tempatmu”.
Lalu beliau duduk ditengah-tengah kami, hingga aku bisa merasakan dinginnya kedua telapak kaki beliau di dadaku.

Beliau berkata: “Ketahuilah, aku akan ajarkan kepada kalian sesuatu yang lebih baik dari apa yang kalian minta kepadaku,
“Jika kalian hendak tidur maka
– bertakbirlah 34x,
– bertasbihlah 33x dan
– bertahmidlah 33x,
maka itu lebih baik bagi kalian daripada seorang pembantu”.
(HR Bukhari)

Wahai saudariku…
Inilah solusi nabawi saat Fatimah merasa capek karena banyaknya pekerjaan rumah yang harus ia selesaikan, karena dzikir yang dilafazhkan dengan lisan dan diresapi di dalam qolbu serta diamalkan dengan anggota badan akan memberikan kekuatan ke dalam jiwa dan raga kita saat kita mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah kita.

Kita akan lebih bersemangat dan bertenaga serta mengerjakan seluruh tugas kita dengan penuh keikhlasan.

Ingatlah seberat-berat sebuah pekerjaan, jika kita lakukan dengan ikhlas maka akan terasa ringat dan nikmat.

Ustadz M Nuzul, Lc, حفظه الله تعالى

T E M A N


teman..

lihatlah rumput ilalang yang bergoyang..

seakan membisikan pengalaman..

seraya berkata..

hidupku tak lepas dari terpaan angin..

terkadang aku merunduk..

terkadang pula meliuk-liuk..

namun itu tak membuatku tersungkur..

 

teman..

itulah kehidupan..

tak lepas dari aral yang melintang..

ujian dan cobaan silih berganti..

menyaring keimanan..

demikian Robb kita berfirman:

alif laam miim..

apakah manusia mengira

akan dibiarkan berucap kami beriman sementara ia tidak diuji.. (Al Ankabut:1) 

 

teman..

tidakkah kita ingin setegar batu karang..

yang selalu diterjang ombak samudra..

namun ia tegar tak bergeming..

seakan tersenyum anggun menuai kesabaran..

 

teman..

sabar di dunia amat indah..

walau pahit dan getir terasa..

tapi ia sementara dan tak lama..

sedangkan sabar di neraka tak lagi berguna..

dalam masa yang amat panjang..

satu harinya sama dengan lima puluh ribu tahun di dunia..

manakah kesabaran yang engkau pilih..

 

teman..

sabarlah di atas jalan Rabbmu..

sabarlah tuk menaati Nabimu..

sampai kita berjumpa denganNya..

Nabi bersabda..

bersabarlah.. sampai berjumpa denganku di telaga haudl..

by Ustadz Badru Salam, Lc (UB)


Kematian Bukanlah Peristirahatan Terakhir

Ustadz Firanda Andirja, MA, حفظه الله تعالى

Penyair berkata :

فَلَوْ أَنَّا إِذَا مِتْنَا تُرِكْنَا ** لَكَانَ الَموْتُ رَاحَة كُلِّ حَيٍ
ولكنّا إذا متنا بُعثنا ** ونُسأل بعده عن كل شيءٍ

“Jikalau setelah mati kita dibiarkan…. Tentulah kematian adalah peristirahatan bagi setiap yang hidup…

Akan tetapi setelah mati kita angkat dibangkitkan… Lalu kita akan ditanya tentang seluruh yang pernah kita lakukan…”

Lakukanlah apa yang anda kehendaki… Ucapkanlah dan tulislah apa yang engkau sukai… Namun siapkanlah jawaban yang tepat atas segala pertanyaan pada persidangan akhirat….

Kematianmu bukanlah awal peristirahatanmu akan tetapi awal dari pertanggung jawabanmu !