Sedikit Tanya Jawab dari Kajian “Dahsyatnya Cinta”

  1. Pertanyaan : “Ustadz ,suami saya orangnya baik sekali, karena kebaikannya sampai sampai saya merasa takut kehilangan suami saya, takut bagaimana kalau suatu saat suami meninggal, khawatir suatu saat suami poligami, dan khawatir karena ketergantungan ekonomi pada suami, apakah cinta saya kepada suami ini benar ?” Jawab : “Ini cinta yang salah bu.. Cinta yang salah . . . kekhawatiran suami meninggal, namanya meninggal itu sudah kepastian, sudah ditentukan Allah, masalah ekonomi, jikapun suatu saat suami ibu tidak ada lagi, yakinlah bahwa rizki Ibu , rizki anak anak Ibu telah dijamin oleh Allah, dan untuk poligami …. berdoa saja semoga Allah tidak memberi ujian dengan poligami, jikapun harus poligami maka berdoalah memohon kekuatan dan kesabaran dan memohon ganjaran di sisi Allah. Jangan dihantui oleh ketakutan, ketakutan membawa kita suudzon kepada Allah dan membuat kita jadi berkurang ketergantungan kita kepada Allah, Ingat ibu, suami bukan segala-galanya, gantungkan segala harapan kita hanya kepada Allah, bukan kepada makhluk. . . .”
  2. Pertanyaan : “Ustadz, bolehkah saya berdoa “Ya Allah semoga suami saya tidak berpoligami”” (langsung ramee…) Jawab : “Ibu ibu… Ketahuilah para istri istri nabi, dan istri istri para sahabiyah,,tidak pernah ada doa seperti itu… berdoalah sepeerti ini : “Ya Allah jika memang takdir suami harus berpoligami maka berikanlah kekuatan, berikanlah kesabaran dalam menerima takdir Allah. Berusahalan untuk meniru istri istri nabi. Bu,,Poligami itu banyak manfaat atau mudhorot?” Ibu2 : (serempaakk) “mudhorooott”😀 .. Ustadz : “Jika lebih banyak mudhorot mengapa Allah halalkan? Pahamilah bahwa semuaa syariat Allah itu membawa kebaikan, tidak ada satupun yang membawa kemudhorotan. Dengan poligami Allah ingin kita tidak bergantung pada makhluk, Allah ingin kita senantiasa bergantung kepada Allah, Allah tidak ingin kita terlalu berlebihan mencintai kepada selain Allah.. Cintailah suami karena Allah, saling mengingatkan untuk bersama sama menuju ketaatan.”
  3. Pertanyaan : “Ustadz, bolehkah istri meminta khulu’ ( cerai ) karena perbedaan derajat ?” Jawab : “Dulu ada seorang budak wanita yang bernama Barirah. Semasa dia menjadi budak, dia memiliki seorang suami yang juga seorang budak. Jadi suami istri adalah sama-sama budak. Suatu ketika Aisyah membeli Barirah dari pemiliknya. Setelah menjadi miliknya, Aisyah memerdekakan Barirah dari perbudakan dan ketika itu suami Barirah masih berstatus sebagai budak. Jika seorang budak wanita yang memiliki suami itu merdeka maka dia memiliki hak pilih antara tetap menjadi istri dari suami yang masih berstatus sebagai budak ataukah berpisah dari suami yang lama untuk mencari suami yang baru. Oleh karena itu setelah merdeka, Nabi memanggil Barirah dan menyampaikan adanya hak ini kepadanya. Ternyata Barirah memilih untuk berpisah dari suaminya. Selama rentang waktu untuk memilih inilah, suami Barirah selalu membuntuti kemana saja Barirah pergi. Ia berjalan di belakang Barirah sambil berurai air mata bahkan air mata pun sampai membasahi jenggotnya karena demikian derasnya air mata tersebut keluar. Ini semua dia lakukan dalam rangka mengharap iba dan belas kasihan Barirah sehingga tetap memilih untuk bersama suaminya. Kondisi ini pun membuat Nabi merasa iba. Sampai-sampai beliau memberi saran dan masukan kepada Barirah agar kembali saja kepada suaminya. Namun Barirah adalah seorang wanita yang cerdas. Beliau tahu bahwa saran Nabi itu status hukumnya berbeda dengan perintah Nabi. Oleh karenanya, Barirah bertanya kepada Nabi apakah yang Nabi sampaikan itu sekedar saran ataukah perintah seorang Nabi kepada salah satu umatnya yang wajib ditaati apapun kondisinya. Setelah Nabi menjelaskan bahwa yang Nabi sampaikan hanya sekedar saran maka Barirah menegaskan bahwa dia sama sekali tidak memiliki keinginan untuk kembali kepada suaminya. Jadi,…. boleh meminta khulu atau cerai jika memang berbeda derajatnya, atau fisiknya kurang yang dengannya bisa menyebabkan kita durhaka kepada suami, tidak bisa melayani suami dengan baik, kita mudah berlaku kasar kepada suami, maka ini Boleh, NAMUN. . . bersabar dan mengharap ganjaran pahala di sisi Allah itu jaauuh lebih baik.. sabar lah bu, nanti di surga kita bisa mendapat suami yang sempurna, baik fisik, ketampanan yang jauh2 berkali lipat ,jadi … bersabar itu jauh lebih utama. . “
  4. Pertanyaan : “Bolehkah Istri meminta khulu’ (cerai) kepada Suami karena susah untuk mencintai Suami ?” Jawab : “Jaman dahulu Khalifah Umar Bin Khaththab pernah didatangi oleh seorang wanita, wanita itu meminta solusi, “Wahai Umar, suamiku bertanya kepadaku, “Wahai istriku apakah kau mencintaiku?” dan saya menjawab “Saya tidak mencintaimu”, karena memang betul bahwa saya tidak mencintainya. Lalu Umar berkata : “Mengapa kamu tidak berdusta saja dengan mengatakan bahwa kau mencintai suamimu? Tidak semua rumah tangga berada diatas cinta, berharaplah balasan pahala nanti disurga.” Maka jawabannya : Tidak setiap pernikahan dibangun berdasar cinta satu sama lain, yang terpenting adalah cintamu kepada Allah, cintamu kepada Allah akan mencegahmu menyakiti suamimu, cinta kepada Allah bukan cinta kepada hawa nafsu. Sebab cinta kepada Allah akan melahirkan takwa, yang menjadikannya hati-hati mengarungi samudera kehidupan dalam rangka ketaatan kepada Allah. Cinta kepada Allah melahirkan rasa malu, yaitu malu berbuat maksiat kepada Allah”
Kajian oleh Ustadz Badrusalam, Lc
Masjid Raya At Tauhid, Kota Deltamas, Cikarang Pusat 30 Agustus 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s